Indonesia merupakan salah satu negara dengan pemerintah yang mempunyai
peran penting untuk menjalankan dan mengatur ekonomi di negaranya tersebut .
Indonesia menggunakan sistem ekonomi yang berdasarkan ideologi bangsa yaitu
Pancasila dan UUD 1945 sebagai asas dalam menumbuhkan ekonomi Indonesia yang
menaruh keadilan , kemanusiaan, kebersamaan untuk mewujudkan kesejahteraan
masyarakat yang lebih baik. Oleh sebab itu Indonesia disebutkan sebagai salah
satu negara yang termasuk memakai sistem ekonomi campuran.
Setelah terjadinya peristiwa krisis moneter yang terjadi pada saat
pemerintahan Soeharto , membuat ekonomi Indonesia mengalami penurunan yang
drastis, seperti turunnya harga rupiah dan peningkatan inflasi yang semakin
tinggi. Pergantian pemerintahan pun dilakukan agar dapat memulihkan krisis
ekonomi yang terjadi. Selama beberapa dekade pergantian pemerintahan sampai
saat ini, ekonomi di Indonesia sudah menunjukkan peningkatan dan perbaikan yang
cukup baik, sedikit demi sedikit Indonesia dapat meninggalkan krisis ekonomi
tersebut.
Dilihat dari perkembangan ekonomi Indonesia antara tahun 2008 hingga tahun
2010, laju pertumbuhan ekonomi seperti pertumbuhan GDP menunjukkan indikator
antara 4-6 %,laju inflasi diperketat dengan indikator pada tahun 2010 berkisar
antara 4-5%. Pada tahun 2008 laju pertumbuhan PDB di beberapa sektor seperti
sektor transportasi dan komunikasi menunjukkan peningkatan dengan jumlah yang
signifikan dibandingkan sektor lainnya dengan persentase sebesar 16,7 %.
Angka kemiskinan semakin menurun baik di kota dan di desa ,yang semula
pada tahun 2008 sebesar 15,42 %, sedangkan pada tahun 2009 menurun
menjadi 14,15%. Lapangan pekerjaan terus diperluas dengan pencapaian angka
pengangguran pada tahun 2009 menurun menjadi 8,14% .
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah di luar Jawa, termasuk
minyak mentah, gas alam, timah, tembaga dan emas. Menjadikan Indonesia sebagai
eksportir terbesar kedua gas alam,. produk pertanian yang berlaku di Indonesia
termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah dan karet. Sumber daya alam ini adalah
aset untuk pengembangan ekspor Indonesia. Untuk perkembangan ekspor pada tahun
2009 terjadi peningkatan pada ekspor nonmigas sebesar 85,66 % dibandingkan
dengan perkembangan import non migas sebesar 82,10 %.
Hal-hal yang telah dijelaskan merupakan suatu rangkaian bahwa Indonesia
sebagai negara yang menuju kestabilan ekonomi yang baik di dalam negeri maupun
di luar negeri.
A.
KEKUATAN
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meyakini
jika kekuatan ekonomi daerah di Indonesia masih belum dimaksimalkan oleh
pemerintah.
Padahal, Kadin optimistis bahwa perekonomian di
daerah bisa menjadi kekuatan utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kadin
Indonesia Bidang Perbankan dan Finansial, Rosan P Roeslani, di Jakarta, Jumat
(31/5).
Rosan mengatakan bahwa kontribusi perekonomian
daerah tidak bisa dipandang sebelah mata dalam perannya meningkatkan
pertumbuhan ekonomi nasional.
Dikatakan, jika pemerintah berani memaksimalkan perekonomian daerah, diyakini hal tersebut bisa menjadi senjata andalan Indonesia untuk mengatasi gejolak krisis global yang hingga kini diperkirakan masih belum membaik.
"Ekonomi daerah yang umumnya berbasis ekonomi kerakyatan adalah ekonomi mandiri, yang bahan baku industrinya dari dalam negeri dan mengandalkan pembiayaan usahanya pada modal sendiri atau modal perbankan dalam negeri. Sehingga tidak akan terpengaruh terhadap modal luar," jelasnya.
Lebih lanjut, Kadin juga menyoroti potensi besar dari Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada di daerah. Karena, UKM juga memiliki kemampuan besar dalam menyerap tenaga kerja, sehingga sangat berperan untuk mengentaskan masalah pengangguran dan kemiskinan.
Namun, berbagai persoalan dasar masih terus terjadi di daerah. Diantaranya adalah UKM yang selalu tersendat dalam masalah permodalan. Akses yang terbatas terhadap bank, serta administrasi yang rumit dalam mengembangkan usaha sering menjadi kendala mengembangkan usaha.
Rosan merekomendasikan kepada para pelaku usaha untuk mengakses permodalan melalui non perbankan untuk mengembangkan usaha.
"Perbankan itu high regulated, namun sebenarnya ada alternatif bagi para pengusaha daerah untuk memanfaatkan non perbankan," tutupnya.
Dikatakan, jika pemerintah berani memaksimalkan perekonomian daerah, diyakini hal tersebut bisa menjadi senjata andalan Indonesia untuk mengatasi gejolak krisis global yang hingga kini diperkirakan masih belum membaik.
"Ekonomi daerah yang umumnya berbasis ekonomi kerakyatan adalah ekonomi mandiri, yang bahan baku industrinya dari dalam negeri dan mengandalkan pembiayaan usahanya pada modal sendiri atau modal perbankan dalam negeri. Sehingga tidak akan terpengaruh terhadap modal luar," jelasnya.
Lebih lanjut, Kadin juga menyoroti potensi besar dari Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada di daerah. Karena, UKM juga memiliki kemampuan besar dalam menyerap tenaga kerja, sehingga sangat berperan untuk mengentaskan masalah pengangguran dan kemiskinan.
Namun, berbagai persoalan dasar masih terus terjadi di daerah. Diantaranya adalah UKM yang selalu tersendat dalam masalah permodalan. Akses yang terbatas terhadap bank, serta administrasi yang rumit dalam mengembangkan usaha sering menjadi kendala mengembangkan usaha.
Rosan merekomendasikan kepada para pelaku usaha untuk mengakses permodalan melalui non perbankan untuk mengembangkan usaha.
"Perbankan itu high regulated, namun sebenarnya ada alternatif bagi para pengusaha daerah untuk memanfaatkan non perbankan," tutupnya.
B.
ANCAMAN
Masalah defisit kembar (twin
deficits), menjadi ancaman terbesar perekonomian Indonesia di 2013. Kondisi ini
terjadi ketika defisit neraca transaksi berjalan dan defisit fiskal.
Jika dibiarkan akan mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah dan muncul rentetan panjang dampak yang mengkhawatirkan.
“Kalau tidak diatasi bisa berpengaruh terhadap kondisi perekonomian Indonesia, khususnya nilai tukar. Sehingga membuat ekonomi kita yang seharusnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia pada delapan tahun ke depan, bisa gagal karena tidak bisa mengatasi kondisi ini,” ujar Pengamat Ekonomi Aviliani, dalam diskusi EC-Think Indonesia bersama Avliani dan Iman Sugema di Jakarta, Kamis (21/3).
Ia menjelaskan, neraca transaksi berjalan merupakan penyumlahan neraca fiskal pemerintah dan neraca transaksi swasta. Kecenderungan yang terjadi sebelum ini, neraca fiskal pemerintah kerap negatif. Namun selalu bisa ditutupi swasta.
Masalah mulai timbul ketika swasta mulai mengalami defisit, dan pada saat yang sama pemerintah tidak mampu menekan defisit anggaran. Neraca transaksi berjalan secara total mengalami defisit 2,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2012.
Pada 2011 jumlah neraca transaksi berjalan adalah 0,2% dari PDB. Kalau ini terus berjalan di 2013 semakin bahaya. Defisit neraca transaksi berjalan ini, berimbas pada menurunnya pasokan valas. Karena tidak mampu mengimbangi permintaan valas.
“Pada tahun 2012, neraca transaksi berjalan mengalami defisit, sedangkan neraca arus modal mengalami surplus. Jadi sumber masalah utama pelemahan nilai tukar pada 2012 adalah defisit neraca transaksi berjalan,” paparnya.
Ia menjelaskan lebih lanjut, penyebab utama terus terjadinya defisit swasta karena pertumbuhan impor yang melampaui pertumbuhan ekspor. Selain itu, meningkatnya beban repatriasi keuntungan perusahaan asing dan beban pembayaran bunga utang luar negeri ikut memengaruhi.
Pertumbuhan ekonomi yang semakin bagus, kelas menengah yang makin meningkat berimbas pada naiknya kebutuhan konsumsi dan pembangunan infrastruktur. “Nah ternyata semuanya kita impor. Sehingga tren impor meningkat. Ini menunjukkan kondisi kita dalam posisi mengkhawatirkan.”
Untuk mengatasi defisit neraca transaksi berjalan, ia menekankan agar pemerintah bisa mengurangi defisit neraca transaksi berjalan, dengan cara menekan defisit anggaran pemerintah dan meningkatkan ekspor.
Namun ia pesimistis, pengurangan defisit tampaknya sulit untuk dilakukan. Terutama karena defisit APBN 2013, kata dia, diperkirakan 1,7% dari PDB. Defisit masih berpotensi terus membengkak sejalan dengan beban subsidi BBM.
“Peningkatan ekspor hanya bisa dilakukan dalam jangka menengah dan masih menunggu membaiknya situasi ekonomi global,” keluhnya.
Opsi lainnya adalah membiayai defisit neraca transaksi berjalan dengan arus masuk modal asing. Akan tetapi arus modal asing juga tidak bisa terlalu diandalkan karena membengkaknya beban pembayaran kembali utang luar negeri swasta.
Jika dibiarkan akan mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah dan muncul rentetan panjang dampak yang mengkhawatirkan.
“Kalau tidak diatasi bisa berpengaruh terhadap kondisi perekonomian Indonesia, khususnya nilai tukar. Sehingga membuat ekonomi kita yang seharusnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia pada delapan tahun ke depan, bisa gagal karena tidak bisa mengatasi kondisi ini,” ujar Pengamat Ekonomi Aviliani, dalam diskusi EC-Think Indonesia bersama Avliani dan Iman Sugema di Jakarta, Kamis (21/3).
Ia menjelaskan, neraca transaksi berjalan merupakan penyumlahan neraca fiskal pemerintah dan neraca transaksi swasta. Kecenderungan yang terjadi sebelum ini, neraca fiskal pemerintah kerap negatif. Namun selalu bisa ditutupi swasta.
Masalah mulai timbul ketika swasta mulai mengalami defisit, dan pada saat yang sama pemerintah tidak mampu menekan defisit anggaran. Neraca transaksi berjalan secara total mengalami defisit 2,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2012.
Pada 2011 jumlah neraca transaksi berjalan adalah 0,2% dari PDB. Kalau ini terus berjalan di 2013 semakin bahaya. Defisit neraca transaksi berjalan ini, berimbas pada menurunnya pasokan valas. Karena tidak mampu mengimbangi permintaan valas.
“Pada tahun 2012, neraca transaksi berjalan mengalami defisit, sedangkan neraca arus modal mengalami surplus. Jadi sumber masalah utama pelemahan nilai tukar pada 2012 adalah defisit neraca transaksi berjalan,” paparnya.
Ia menjelaskan lebih lanjut, penyebab utama terus terjadinya defisit swasta karena pertumbuhan impor yang melampaui pertumbuhan ekspor. Selain itu, meningkatnya beban repatriasi keuntungan perusahaan asing dan beban pembayaran bunga utang luar negeri ikut memengaruhi.
Pertumbuhan ekonomi yang semakin bagus, kelas menengah yang makin meningkat berimbas pada naiknya kebutuhan konsumsi dan pembangunan infrastruktur. “Nah ternyata semuanya kita impor. Sehingga tren impor meningkat. Ini menunjukkan kondisi kita dalam posisi mengkhawatirkan.”
Untuk mengatasi defisit neraca transaksi berjalan, ia menekankan agar pemerintah bisa mengurangi defisit neraca transaksi berjalan, dengan cara menekan defisit anggaran pemerintah dan meningkatkan ekspor.
Namun ia pesimistis, pengurangan defisit tampaknya sulit untuk dilakukan. Terutama karena defisit APBN 2013, kata dia, diperkirakan 1,7% dari PDB. Defisit masih berpotensi terus membengkak sejalan dengan beban subsidi BBM.
“Peningkatan ekspor hanya bisa dilakukan dalam jangka menengah dan masih menunggu membaiknya situasi ekonomi global,” keluhnya.
Opsi lainnya adalah membiayai defisit neraca transaksi berjalan dengan arus masuk modal asing. Akan tetapi arus modal asing juga tidak bisa terlalu diandalkan karena membengkaknya beban pembayaran kembali utang luar negeri swasta.
Sumber:
No comments:
Post a Comment