MAKALAH PENALARAN DEDUKTIF DAN PENALARAN INDUKTIF
Disusun Oleh:
Yuke Aulia Qamarani
3EB23 (27212922)
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2014
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT dengan rahmat dan hidayahnya,
penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Selawat serta salam semoga tetap
tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam makalah “Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif” penulis bermaksud
menjelaskan secara detail akanPenalaran Deduktif dan Penalaran Induktif. Adapun
tujuan selanjutnya adalah untuk memenuhi salah satu syarat tugas mata kuliah
Bahasa Indonesia.
Akhir kata tak ada gading yang tak retak, penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun untuk perbaikan penulis dalam menyelesaikan tugas ini.
Penulis,
Bekasi, Desember
2014
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Rumusan Masalah
C.
Tujuan Penulis
BAB II PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN PENALARAN
B.
PENALARAN DEDUKTIF
a.
Menarik Simpulan secara Langsung
b.
Menarik Simpulan secara Tidak Langsung
C.
PENALARAN INDUKTIF
a.
Generalisasi
b.
Analogi
c.
Hubungan Kausal
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pencarian
pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum,
yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan
penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah.
Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu
Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif. Penalaran deduktif merupakan
prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah
diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan
baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori,
hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata
lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan
teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan.
Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan
kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran induktif merupakan prosedur
yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan
berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam
hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Dengan
demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat
digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu
wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada
hukum-hukum logika
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah yang dimaksud dengan Penalaran Deduktif?
2.
Apakah yang dimaksud dengan Penalaran Induktif ?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui definisi Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif.
2.
Memahami arti Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif.
3.
Mampu menjelaskan Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif.
.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN PENALARAN
Penalaran
adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah
konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi
– proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau
dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak
diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Ada dua jenis metode dalam
menalar yaitu deduktif dan induktif.
B.
PENALARAN DEDUKTIF
Penalaran
Deduktif adalah proses penalaran untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau
sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum.
Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara
deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus
atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif tersebut
dapat dimulai dari suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang
kongkrit. Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan
adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan
imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif
sebagai prestasi sosial dan penanda status social.
Penarikan
simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat
pula dilakukan secara tak langsung.
1.
Menarik Simpulan secara Langsung
Simpulan
(konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi yang
ditarik dari dua premis disebut simpulan taklangsung.
Misalnya:
1)
Semua S adalah P. (premis)
Sebagian
P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua ikan
berdarah dingin.
(premis)
Sebagian yang
berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)
2)
Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Tidak satu pun P
adalah S. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor
nyamuk pun adalah lalat. (premis)
Tidak seekor
lalat pun adalah nyamuk. (simpulan)
3)
Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S
adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Semua rudal
adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun
rudal adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)
4)
Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah
tak-P. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor pun
harimau adalah singa.
(premis)
Semua harimau
adalah bukan singa.
(simpulan)
5)
Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S
adalah tak-P. (simpulan)
Tidak satu pun
tak-P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua gajah
adalah berbelalai.
(premis)
Tak satu pun
gajah adalah takberbelalai. (simpulan)
Tidak satu pu
yang takberbelalai adalah gajah. (simpulan)
2.
Menarik Simpulan secara Tidak Langsung
Penalaran
deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung memerlukan dua
premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah simpulan.
Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua
adalah premis yang bersifat khusus.
Untuk
menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis
(pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuanyang semua orang sudah tahu,
umpamanya setiap manusia akan mati, semua ikan berdarah dingin, semua
sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua pohon kelapa berakar
serabut.
Beberapa
jenis penalaran deduksi dengan penarikan secara tidak langsung sebagai berikut.
a.
Silogisme Kategorial
Yang
dimaksud dengan kategorial adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis
yang bersifat umum disebut premis mayor dan premis yang bersifat khusus
disebut premis minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat.
Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term
mayor.
Contoh:
Semua manusia
bijaksana.
Semua polisi
adalah bijaksana.
Jadi, semua
polisi bijaksana.
Untuk menghasilkan simpulan harus ada term penengah sebagai
penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah adalah silogisme
diatas ialah manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak
terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat
diambil.
Contoh:
Semua manusia
tidak bijaksana.
Semua kera bukan
manusia.
Jadi, (tidak ada
kesimpulan).
Aturan umum
silogisme kategorial adalah sebagai berikut.
a)
Silogisme harus terdiri atas tiga term, yaitu term mayor, term minor dan term
penengah.
Contoh:
Semua atlet
harus giat berlatih.
Xantipe adalah
seorang atlet.
Xantipe harus
giat berlatih.
Term
mayor
= Xantipe.
Term minor
= harus giat berlatih.
Term
penengah
= atlet.
Kalau lebih dari
tiga term, simpulan akan menjadi salah.
Contoh:
Gambar itu
menempel di dinding.
Dinding itu
menempel di tiang.
Dalam premis ini
terdapat empat term yaitu gambar, menempel di dinding, dan dinding menempel
ditiang. Oleh sebab itu, disini tidak dapat ditarik kesimpulan.
b)
Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor dan
simpulan.
c)
Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
Contoh:
Semua semut
bukan ulat.
Tidak seekor
ulat pun adalah manusia.
d)
Bilah salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
Contoh:
Tidak seekor gajah
pun adalah singa.
Semua gajah
berbelalai.
Jadi, tidak
seekor singa pun berbelalai.
e)
Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
Contoh:
f)
Dari dua premis yang khusus, tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Sebagian orang
jujur adalah petani.
Sebagian pegawai
negeri adalah orang jujur.
Jadi, . . .
(tidak ada simpulan)
g)
Bila salah satu premis khusus, simpulan akan bersifat khusus.
Contoh:
Semua mahasiswa
adalah lulusan SLTA.
Sebagian pemuda
adalah mahasiswa.
Jadi, sebagian
pemuda adalah lulusan SLTA.
h)
Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik
satu simpulan.
Contoh:
Beberapa manusia
adalah bijaksana.
Tidak seekor
binatang pun adalah manusia.
Jadi, . . .
(tidak ada simpulan)
b.
Silogisme Hipotesis
Silogisme
hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi
kondisional hipotesis.
Kalau
premis minornya membernarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen.
Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulan juga menolak konsekuen.
Contoh:
Jika
besi dipanaskan, besi akan memuai.
Besi
dipanaskan.
Jadi,
besi memuai.
Jika
besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai.
Besi
tidak dipanaskan.
Jadi,
besi tidak akan memuai.
c.
Silogisme Alterntif
Silogisme
alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi
alternatif. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternatif,
simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Dia
adalah seorang kiai atau profesor.
Dia
seorang kiai.
Jadi,
dia bukan seorang profesor.
Dia
adalah seorang kiai atau profesor.
Dia
bukan seorang kiai.
Jadi,
dia seorang profesor.
d.
Entimen
Sebenarnya
silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan
maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai
premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang
dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Semua sarjana
adalah orang cerdas.
Ali adalah seorang
sarjana.
Jadi, Ali adalah
orang cerdas.
Dari silogisme
ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas karena dia
adalah seorang sarjana”.
Beberapa contoh
entimen:
Dia
menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
Dengan demikian,
silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, sebuah entimen juga dapat diubah
menjadi silogisme.
C.
PENALARAN INDUKTIF
Penalaran
induktif adalah proses penalaran untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau
sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta – fakta yang bersifat khusus,
prosesnya disebut Induksi. Penalaran induktif tekait dengan empirisme. Secara
impirisme, ilmu memisahkan antara semua pengetahuan yang sesuai fakta dan yang
tidak. Sebelum teruji secara empiris, semua penjelasan yang diajukan hanyalah
bersifat sementara. Penalaran induktif ini berpangkal pada empiris untuk
menyusun suatu penjelasan umum, teori atau kaedah yang berlaku umum.
Contoh
: Sejak suaminya meninggal dunia dua tahun yang lalu, Ny. Ahmad sering sakit.
Setiap bulan ia pergi ke dokter memeriksakan sakitnya. Harta peninggalan
suaminya semakin menipis untuk membeli obat dan biaya pemeriksaan, serta untuk
biya hidup sehari-hari bersama tiga orang anaknya yang masih sekolah. Anaknya
yang tertua dan adiknya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta,
sedangkan yang nomor tiga masih duduk di bangku SMA. Sungguh (kata kunci)
berat beban hidupnya. (Ide pokok)
Beberapa bentuk
penalaran induktif adalah sebagai berikut.
1.
Generalisasi
Generalisasi
ialah proses penalaranyang megandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat
tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Dari beberapa gejala
dan data, kita ragu-ragu mengatakan bahwa “Lulusan sekolah A pintar-pintar.”
Hal ini dapat kita simpulkan setelah beberapa data sebagai pernyataan
memberikan gambaran seperti itu.
Contoh:
Jika
dipanaskan, besi memuai.
Jika
dipanaskan, tembaga memuai.
Jika
dipanaskan, emas memuai.
Jadi,
jika dipanaskan, logam memuai.
benar
atau tidak benarnya dari generalisasi itu dapat dilihat dari hal-hal berikut.
1)
Data itu harus memadai jumlahnya. Semakin banyak data yang dipaparkan, semakin
benar simpulan yang diperoleh.
2)
Data itu harus mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan
simpulan yang benar.
3)
Pengecualian perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus
tidak dapat dijadikan data.
a.
Macam – macam generalisasi
·
1) Generalisasi sempurna
Adalah
generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penimpulan diselidiki.
Generalisasi macam ini memberikan kesimpilan amat kuat dan tidak dapat
diserang. Tetapi tetap saja yang belum diselidiki.
·
2) Generalisasi tidak sempurana
Adalah
generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkakn kesimpulan yang
berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.
2.
Analogi
Analogi
adalah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai
sifat yang sama.
Contoh:
Nina adalah lulusan
akademi A.
Nina dapat
menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah
lulusan akademi A.
Oleh sebab itu,
Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Tujuan penalaran
secara analogi adalah sebagai berikut.
1)
Analogi dilakukan untuk meramalkan sesuatu.
2)
Analogi diakukan untuk menyingkapkan kekeliruan.
3)
Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.
3.
Hubungan Kausal
Hubungan
kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling
berhubungan. Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi. Dalam
kehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Hujan
turun dan jalan-jalan becek. Ia kena penyakit kanker darah dan meninggal dunia.
Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antarmasalah, yaitu
sebagai berikut.
a.
Sebab-Akibat
Sebab-akibat
ini berpola A menyebabkan B. Disamping itu, hubungan ini dapat pula berpola A
menyebabkan B, C, D, dan seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang
dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu.
Dalam
kaitannya dengan hubungan kausal ini, diperlukan kemampuan penalaran seseorang
untuk mendapatkan simpulan penalaran. Hal ini akan terlihat pada suatu penyebab
yang tidak jelas terhadap sebuah akibat yang nyata. Kalau kita melihat sebiji
buah mangga terjatuh dari batangnya, kita akan memperkirakan beberapa
kemungkinan penyebabnya. Mungkin mangga itu ditimpa hujan, mungkin dihempas
angin, dan mungkin pula dilempari anak-anak. Pastilah sakah satu kemungkinana
itu yang menjadi penyebabnya.
Andaikata
angin tiba-tiba bertiup. (A), dan hujan yang tiba-tiba turun. (B), ternyata
tidak sebuah manggapun yang jatuh. (E), tentu kita dapat menyimpulkan bahwa
jatuhnya mangga itu disebabkan oleh lemparan anak-anak. (C).
Pola
seperti itu dapat kita lihat pada rancangan berikut.
Angin
hujan
lemparan mangga jatuh
(A)
(B)
( C)
(E)
Angin
hujan
mangga tidak jatuh
(A) (B)
(E)
Oleh sebab itu,
lemparan anak menyebabkan mangga jatuh.
(C)
(E)
Pola-pola
seperti terjadi jika dua kasus atau lebih dalam satu gejala mempunyai satu dan
hanya satu kondisi yang dapat mengakibatkan sesuatu, kondisi itu dapat diterima
sebagai penyebab sesuatu tersebut.[1]
Teh,
gula,
garam,
menyebabkan kedatangan semut
(P)
(Q)
(R)
(Y)
Gula,
lada,
bawang, menyebabkan
kedatangan semut
(Q)
(S)
(U)
(Y)
Jadi, gula
menyebabkan ketadangan semut
(Q)
(Y)
b.
Akibat-Sebab
Akibat-Sebab
ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi kedokter. Ke dokter
merupakan akibat dan sakit merupakan sebab, jadi mirip dengan entimen. Akan
tetapi, dalam penalaran jenis akibat-sebab ini, peristiwa sebab merupakan
simpulan.
c.
Akibat-Akibat
Akibat-akibat
adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung
disimpulkan pada suatu “akibat” yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut.
Ketika
pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamannya becek. Ibu langsung
menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah.
Dalam
kasus itu penyebabnya tidak ditampilkan, yaitu hari hujan. Pola itu dapat
dilihat seperti berikut ini.
Hujan
menyebabkan tanah becek
(A)
(B)
Hujan
menyebabkan kain jemuran basah
(A)
(C)
Dalam proses
penalaran “akibat-akibat”, peristiwa tanah becek (B) merupakan data, dan
peristitwa kain jemuran basah (C) merupakan simpulan
Jadi, karena
tanah becek, pasti kain jemuran basah.
(B)
(C)
[1] metode
agreement. E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai. Cermat Bahasa Indonesia. Hal
169. Jakarta: 2006
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari
berbagai penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa penalaran dalam prosesnya
ada 2 macam yaitu penalaran Deduktif dan penalaran Induktif.
Penalaran
Deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu
untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Penalaran
Induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari
hal-hal khusus ke umum.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Arifin, E Zaenal dan Tasai, S Amran. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia.
Jakarta: Akademika Pressindo.
2.
Tukan, P. 2006. Mahir Berbahasa Indonesia. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.
3.
Tatang, Atep et all. 2009. Bahasa Indonesiaku Bahasa Negeriku 3. Solo: PT. Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri.
5.
http://rezadnk.wordpress.com/2011/03/12/tugas-softskill-bhs-indonesia/

No comments:
Post a Comment